LENTERA KECILMU

​Pagi itu saya mengajak Little_Raga mengunjungi wisata alam tebing keraton. Masih dalam rangka ingin mengajaknya membuat sebuah jurnal perjalanan. Meski masih berupa perjalanan-perjalanan kecil, tetapi saya rasa tak ada salahnya untuk dicoba. Karena tujuan sebenarnya adalah menjadikan dokumentasi ini sebagai salah satu bagian dari aspek pembelajaran. Dimana kami dapat sama-sama memaknai keberagaman.

Sejak kali pertama kami tiba, tak bosan ‘pak ojeg’ menawarkan jasanya untuk menemani sampai atas. Namun, kami menolak karena memang ingin berjalan kaki. Tidak disangka juga, Little_raga kuat berjalan sampai atas tanpa minta berhenti. Padahal sudah cukup lama kami tidak mengajaknya hiking. Jaraknya hanya 2 KM dari tempat kami memarkir kendaraan.

Bersama beberapa orang lain kami menembus dinginnya pagi. Langkah demi langkah kaki kecilnya membuat saya takjub. Tanpa ragu, terus menyusuri jalan setapak. Berkali-kali saya bertanya untuk beristirahat, mantap pula ia menjawab tidak perlu. Hingga penunjuk arah mempertegas akhir perjalanan, saya mulai melambat. Lelah. Sedangkan ia dengan penuh yakin, semakin cepat melangkah.

Setiba kami di pintu gerbang, Raga disambut rombongan yang tadi sempat berjalan bersama. Hati saya menghangat melihat ia bisa membaur dan saling berbagi rasa tentang perjalanan singkat tadi sambil menunggu mentari memunculkan warna emasnya di ufuk timur.

Tetaplah membumi, anakku
Biarkan hatimu menuntun raga
Jangan lupakan tanah tempatmu berpijak
Meski kelak kau ‘kan tinggi mengangkasa
Teruslah berjalan dalam keselarasan
Tumbuhlah dengan segala kebaikan
Jangan tinggalkan mereka karena berbeda
Sebab kita ‘tak pernah boleh memutus silaturahmi
Jadilah hangat disaat dingin tak berkesudahan
Berikan sejuk jikalau panas terlalu menyengat
Jangan takut menyuarakan kebenaran
Bijaksana dan bawalah manfaat sebanyak-banyaknya
Serta jagalah lentera-lentera kecilmu untuk tetap menyala

POSITIVE+

Sepuluh tahun rasanya sudah sangat jauh jika masih mengaku “kecemplung”. Meski awal perjalanan saya memasuki dunia pendidikan memang tidak direncanakan, tetapi saat ini, jika saya renungkan kembali, jalan inilah justru yang membuat saya banyak belajar, berpikir, merenung.

Dalam rentang waktu itu pun tidak sedikit perubahan yang terjadi. Perombakan skala kecil sampai besar pernah ikut saya alami juga. Pertentangan, kekhawatiran, keraguan sudah pasti mewarnai perbincangan antara pengajar. Tetapi jelas bukan kekacauan itu yang ingin saya tangkap. Karena saya yakin, perubahan itu perlu, namun sejauh mana pendidikan dapat merangkul pelajar tanpa memberi sekat, hingga membatasi berkembangnya segala kemampuan diri? Justru, inilah yang semestinya digarisbawahi. 

Seorang dosen senior yang juga dosen saya semasa kuliah pernah memberi sebaris kalimat indah, selalu menjadi penghangat bagi saya. Beliau berpesan agar selalu memberikan waktu dengan sepenuh hati. Karena seorang pengajar sejatinya bukan dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi pintar. Seorang pengajar, justru harus memberikan ruang yang sangat luas, dimana setiap pribadi dapat menemukan jalan untuk mengembangkan dirinya tanpa batas. Jika kemampuan tersebut terasah dengan baik, ilmu bukan lagi sekedar kepemilikan seseorang, ia akan melebur bersama individu-individu yang berkesadaran. Segalanya tercermin dalam proporsi yang pas, tidak berlebihan dan tidak miskin. Itulah anugerah kepekaan diri. 

Jika bicara soal kepekaan, rasanya tidak mungkin terlepas dari berkesadaran. Tanpa adanya kesadaran, ilmu tak akan berkembang lebih jauh. Dan bagi saya, ilmu adalah pembekalan diri, sarana menemukan kesejatian bahkan menyehatkan jiwa. Tentu hal ini saya rasakan setelah memiliki anak serta mengalami belajar bersamanya. Pengalaman ini juga membuat saya mengerti, untuk menjadi orangtua, saya tidak perlu menjadi sempurna. Karena kenyataannya, dengan mengakui kekurangan, saya lebih mudah memahami dan menerima banyak hal baru, bahkan yang sebelumnya tidak pernah saya tahu. Intinya, antara menjadi orangtua dengan menjadi pengajar, ketika saya membebaskan diri dari rasa takut dianggap tidak tahu oleh anak didik, lebih baik memposisikan diri sebagai pembelajar juga. Dengan begitu, saya lebih terbuka dan siap berdialog dengan mereka. Dari sanalah saya menyadari sejauh mana kemampuan yang saya miliki, kesadaran dalam setiap proses yang bergulir serta kepekaan terhadap situasi yang harus saya hadapi dalam proses belajar-mengajar. 

Saya jadi ingat, semasa kecil dulu, saya sering mendengar orang berkata, “pendidikan itu penting supaya bisa jadi orang”, lalu saya iseng melanjutkan bertanya, “memangnya kalau gak berpendidikan predikat “orang” bisa gugur?” Sejujurnya, saya merasa tidak adil jika benar seperti itu, karena untuk menempuh pendidikan secara formal ataupun tidak seharusnya menjadi hak setiap orang. Lantas, kenapa mesti dibatasi? Kenapa harus ada perbedaan untuk mereka yang memilih jalur informal? Bukankah dalam setiap aktivitas yang kita lakukan kita dapat mempelajari sesuatu? Sedangkan pembedanya hanya dapat ijazah atau tidak. Dulu, saya ngotot memperdebatkan hal ini. Sekarang? saya makin mempertanyakan hal ini. 

Terkadang, saya merasa geli, dilain waktu saya merasa prihatin. Betapa bisnis di dunia pendidikan telah banyak membuat muda-mudi untuk tak memiliki kesempatan. Mereka, berlomba-lomba memasuki instansi pendidikan, berjuang mendapatkan gelar, namun, rasanya tak banyak yang mengetahui dengan pasti keinginan diri yang sesungguhnya. Semata hanya karena harus sekolah. Apakah masih pernyataan akan jadi orang ini diyakini hanya dengan bersekolah formal? Semoga saja tidak begitu, saya berharap, perlombaan terus sekolah sampai tinggi adalah benar-benar untuk menyehatkan jiwa, agar tidak menjadi kering dan hilang arah. 

Ya, setidaknya, ada semangat positif yang bisa dibangun disana. Mungkin, suatu saat nanti, akan juga semakin banyak yang tergerak untuk kembali pulang ke kampung halaman, memajukan, memakmurkan. Hingga yang terdidik ini tak merasa malu jika harus meninggalkan kota besar, agar segalanya dapat setara dan merata. Semoga nanti tak ada lagi keraguan untuk memilih formal ataupun informal sebagai cara memperdalam ilmu, karena kesempatan bukan ditunggu, tetapi diciptakan. 

Nada dalam Raga

 
Anakku, 
Tujuh tahun sudah kami diberi kesempatan mengenal dan mendampingimu. Tidak ada kata selain terima kasih atas segala yang sudah kau tunjukkan. Kau adalah guru kehidupan dan pemberi terang dalam perjalanan kami menuju keutuhan. 

Anakku, 
Rasanya masih banyak saja kekurangan didalam mendampingimu. Bahkan kesadaran ini pun terlahir dari kejutan yang kau kemas dengan ringan dan telah menjadi sarana kami untuk belajar menyempurnakan cinta. 

Menjadi orangtua untukmu adalah hal istimewa. Aku sebagai ibu, merasa sangat beruntung bisa dekat denganmu tanpa terpisahkan. Menyertakanmu dalam setiap langkah, merasakan keberadaanmu dalam setiap hembusan nafas. Rasanya, seperti bukan aku yang mengandungmu, sebaliknya, kaulah yang mempersiapkan aku menjadi seorang ibu.

Begitu pula bapakmu, kurasa ia pun tak memilihmu. Engkaulah yang memilih ia untuk menjadi temanmu paling setia. Kau berikan elemen hidup agar ia memiliki ketegaran. Sebentuk sayang kau tiupkan dengan hati-hati, bekal semangat untuknya terus berjuang. Hingga berpeluh-peluh lelah pun tak lagi mengusik hari. Kuyakin, perubahan terbesar yang ia capai, terjadi sejak mendekapmu pertama kali. 

Begitulah caramu melukis kami, penuh kejutan yang mesra kau lantunkan seperti nyanyian. Apapun yang kau lakukan, selalu menjadi pengingat, menyadarkan kami akan hidup yang penuh berkah. Kaulah anugerah hidupku, hidupnya. 

Terima kasih anakku, 
Selamat menempuh perjalanan tujuh tahun keduamu. Semoga kami senantiasa dapat menemanimu, mengiringi langkahmu menemukan kesejatian diri. Hiduplah dalam kesederhanaan. Berbagilah tanpa pamrih. Berkasihlah tanpa merasa kasihan. Dan jangan pernah sombong jadi manusia. 

#SEMBILAN

Waktu; 

Aku mencoba mengingat kembali tentang apa yang diberikan oleh waktu kepada kita; aku, kamu dan dia. Tiga manusia hadir dalam perannya masing-masing, bergerak menuju arah yang sama, meski bertumbuh dan belajar memaknai hidup dengan berbeda. 

Aku percaya, waktu menciptakan dinamikanya sendiri, aku-kamu-dia saling bersinggungan di dalamnya, sinergi dan menjadi elemen yang menyeimbangkan satu sama lain. 

Dia hadir setelah dua puluh lima bulan aku-kamu merangkai mimpi bersama. Kini, perjalanan tujuh tahunnya, telah membawa aku-kamu untuk memahami banyak hal. Gelombang emosi yang datang silih berganti, pun tak surut mengajarkan kita untuk saling memahami porsi diri sebagai individu. 

Ada kalanya aku-kamu-dia membutuhkan ruang untuk dapat menepi sejenak. Maka, yang lainnya akan memberikan luang tak berbatas dan mengisinya dengan diam. Menyetujui setiap langkah sebagai tahap pembelajaran bersama, tanpa mengesampingkan kebenaran. 

Aku; 

Aku adalah aku yang tak mungkin berjalan sejauh ini tanpa kamu dan dia. Bahkan diluar kesadaran, aku memahami diriku sendiri saat menemani dia dalam menemukan keutuhan. Aku pun bertumbuh seiring dia yang semakin kaya hatinya, luas ilmunya dan bertambah pengalamannya. Kian hari, kian banyak pula kesadaran yang muncul menjembatani setiap keputusan dan pilihan. 

Kamu; 

Kamu adalah kamu yang kupahami sebagai sahabat dalam situasi tak menentu. Terkadang, aku-kamu tertatih bersama hanya untuk menjaga segalanya tetap seimbang, mengiringi langkah-langkah kecil yang dia ciptakan dengan penuh keriangan. Kamu, yang hadirmu selalu ditunggu, melengkapi setiap jeda kekosongan dengan simpul-simpul sederhana, penuh makna dan ketenangan. 

Dia; 

Dia adalah cahaya yang menerangi aku dan kamu. Dia adalah titik terjauh yang tak pernah kubayangkan. Dia adalah muara dari segala jawaban yang datang tanpa diduga. Dia adalah keheningan yang bercampur dalam gerak dan bahasa. Disanalah aku-kamu menemukan kedamaian. 

Sembilan; 

Menempuh garis waktu tak kusangka semenyenangkan ini. Ribuan malam terbentang menjadi potongan-potongan kenangan yang segera kudekap dalam gelap. Sayup kulantunkan dera bahagia dan luka mencinta. Setiap nafas mendekatkan kita tanpa syarat, keberadaan kita adalah suara yang saling meniadakan. Kesunyian mempertemukan kita dibatas tak terbilang, meleburkan diri untuk sembilan kali putaran waktu. 

HENING

Rasanya begitu manusiawi, ketika seseorang membutuhkan waktu untuk menarik diri dari hingar bingar dunia. Setelah apa yang dilalui terasa begitu menghimpit. Meski bukan berarti apa yang terjadi membebani hari-hari, tetapi adakalanya kita membutuhkan sedikit pencerahan, bukan? Seperti saat disuruh berlari namun tidak tahu jarak tempuhnya sejauh apa dan akan berakhir dimana, pasti dalam hati akan terus bertanya-tanya atau berharap ada yang memberitahu, ya kan? 

Perlu waktu banyak bagi saya untuk mencermati segalanya dengan hati dan pikiran yang terbuka, agar lebih tenang. Memaknainya sebagai cara unik yang Tuhan berikan agar saya mengerti tanpa perlu lagi mempertanyakan. Mengalir begitu saja dan apa adanya. Bahkan mungkin, selembut angin yang membelai anak-anak rambut, menyejukkan. 

Kemarin, di akhir perkuliahan, saya berbincang santai dengan beberapa mahasiswa di hari yang berbeda-beda. Saya semakin yakin kalau pertemuan demi pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Ada makna yang sengaja Tuhan titipkan melalui mereka, yang kemudian saya temukan sebagai bekal untuk menguatkan hati, menjernihkan pikiran bahkan menenangkan jiwa. 

Puncaknya, malam ini, saya berniat untuk pergi keluar mencari kado. Namun berujung dengan berjalan perlahan dibawah rintik hujan dan berhenti untuk semangkuk yamien manis. Saya tersadar dan tersenyum kecil, rupaya Tuhan sedang mengajak saya untuk bercanda. Saya memang sedang membutuhkan ‘humor’ saat ini. Bagaimana tidak? Dengan kekakuan yang terus melanda hampir satu semester lamanya. Akhirnya saya melepas tawa dengan hati yang lapang saat menyantap mie. Ternyata, ungkapan tak apa merasa biasa seusai melewati hari-hari luar biasa itu memang benar adanya. Saya butuh ruang yang bisa melenturkan ketegangan. 

Saya teringat little_Raga yang berselisih dengan teman sebayanya. Kadangkala, hal itu membuatnya sedih sampai harus menangis. Saya pikir, itu hal terlumrah dalam fase hidup seseorang. Berbeda pendapat, perselisihan, gesekan yang membuat diri merasa tak nyaman atau mungkin merasa terancam. Lantas, apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu? Seharusnya saya banyak melihat kedalam diri Little_Raga yang begitu mudah memaafkan dan menerima. Saya rasa, dua hal itulah cara terbaik untuk bertahan, bukan dengan melawan apalagi berlari. 

Senyum saya semakin lebar tak hanya karena perut yang kenyang, saya tersenyum untuk hati yang berbahagia.

Maka, tak ada yang bisa saya ucapkan selain terima kasih untuk hangat yang dititipkan-Nya melalui tangan-tangan sahabat dan orang-orang tercinta, bahkan melalui mereka yang tak pernah saya temui sebelumnya. 

Terima kasih, karena telah membuat saya berani menghadapi dunia luar dan membuat banyak keputusan tanpa merasa terintimidasi. 

Untukmu yang telah hadir, heninglah sejenak bersamaku  

Dimensi yang tak terbilang, mengikat kita pada satu waktu  

Melalui liku kejut istimewa kau membawaku menuju tempat tak bernama 

Namun tak asing dan mendekapku penuh makna

ENTRY 1611-01

Bebrapa minggu lalu, saya disibukkan oleh banyak hal, salah satunya adalah mempersiapkan materi ujian. 

Berbagi ilmu bersama teman-teman di lintas Universitas, terkadang membuat saya terpikir tentang mengapa begitu banyak aturan baku yang diberlakukan? Adakalanya, hal ini menyurutkan langkah dan menciutkan hati. Meski sebenarnya saya tidak boleh patah semangat. Namun, sayangnya, saya masih belum bisa menerima situasi ini dengan baik, malah berganti dengan semakin banyak pertanyaan dan tidak bisa saya hentikan. 

Puncaknya, dua hari yang lalu  seseorang ‘dikirim’ untuk mengingatkan dimana seharusnya saya memposisikan diri. Setelah bincang singat itu, meski saya masih merasa khawatir dengan institusi tempat saya berbagi ilmu, tetap saja saya tidak bisa sedalam itu untuk terlibat. Bukan menyerah! Tetapi memang demikian adanya. 

Ijinkan saya menumpahkan segala keresahan, tanpa bermaksud menyinggung instansi manapun;

Sisi terdalam, saya khawatir, bagaimana jika saya tidak bisa membantu mereka? Bukankah ketika mereka dihadirkan dalam hidup saya artinya saya bertanggungjawab untuk setiap tindakan yang saya ambil (yang bersinggungan dengan mereka)? Tentunya keterbatasan yang sering saya hadapi tidak boleh menjadi penghalang, bukankah begitu? Lagi-lagi saya menyadari, jika kondisi saat ini membuat beberapa anak muda memilih untuk menjadi instant, bukanlah kesalahan mereka, sebab tatanan hidup sendirilah yang mencetak mereka untuk menjadi seperti itu. 

Lantas, apa yang bisa saya perbaiki? Inilah yang membuat saya berpikir untuk mengambil jarak pada sebuah institusi. Saya tahu itu salah, tetapi saya merasa hampir mustahil untuk mengubahnya secara menyeluruh. Saya hanya berharap sentuhan kecil ini dapat sedikit membantu mereka untuk memikirkan kembali tentang langkah yang seharusnya mereka pilih. Bukan berdasar pada kesempatan yang datang. Karena bagi saya, kesempatan itu seharusnya diciptakan bukan hanya ditunggu. 

Baik saya ataupun mereka dengan segala keunikannya pasti punya kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan. Tujuannya bukan untuk menunjukkan siapa yang terhebat tetapi bahu membahu memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Dan saya ingin menjadi sahabat mereka, berdiri secara sejajar, agar saya pun bisa sama-sama belajar dan memahami kapasitas diri. 

Kenapa?

Karena saya pikir itulah yang disebut tanggung jawab? Menyetujui dan menjalankan setiap pilihan dengan sebaik-sebaiknya meski konsekuensi yang dihadapi terkadang tidaklah mudah. Kebetulan –tidak ada yang namanya kebetulan sih, jadi mari kita ubah Sinergi dengan yang sedang ramai dicermati oleh lingkup dimana anak saya bermain dan belajar, sedikit banyak saya mulai merasa lega. Namun, saya masih mempertanyakan, kapan pendidikan ini akan merubah sistemnya untuk menjawab kebutuhan setiap individu dalam berproses hidup? Jujur, saya (hampir) menyerah. 

Terlalu banyak yang harus dibenahi, itu yang akan tetap menjadi PR bersama. Tidak hanya meningkatkan kualitas para pendidik (yang dinilai sebagai pahlawan dan baru saja dirayakan), menurut saya pribadi cara pandang masyarakat pun harus berubah. 

Mari kita coba cermati; 

Ayah saya seorang guru. Beliau sering berkomentar tentang penghasilan guru dimasa baktinya dengan saat ini yang konon sangatlah rendah. Sepadan kah? Beliau pernah berkata, “silahkan dikonversi dengan harga emas” dan saya pun yang kebetulan ‘terjebak’ dilingkungan serupa merasa bukan itu saja masalahnya. Ada yang lebih kompleks dari pada hal itu, bagi saya ini tetaplah soal tanggung jawab. 

Beberapa pertanyaan saya, diantaranya: Jika saja pendidikan dirasa sebagai kebutuhan, kenapa bisa perbandingan pendidik (saya tidak mau menyebut sebagai pengajar) tidak seimbang dengan jumlah peserta didik? Apakah ini berarti tenaga pendidik masih sulit dicari? Namun, mengapa semakin marak saja sekolah-sekolah baru muncul dengan program-program unggulan jika tenaga pendidik itu sulit dicari? Apakah pendidikan sudah menjadi lahan bisnis? Bukankah seharusnya kualitas sebuah institusi didukung oleh tenaga pendidik sebagai ukuran keberhasilannya? Maka, sampai sejauh manakah tingkat keberhasilan itu, jika semakin hari penyerapan tenaga kerja semakin berkurang? Saya rasa ungkapan “tidak sekolah maka kamu tidak akan jadi orang” ini tak lagi relevan. 

Jadi, dimana saya harus memposisikan diri? Rupanya berhari-hari inilah yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Kemudian, Tuhan yang maha pemurah menunjukkan banyak sekali jalan (agar saya bisa kembali nyenyak) dari berbagai peristiwa yang saya alami sejak tiga hari lalu. Sehingga, saya kembali percaya bahwa mereka adalah titipan yang harus saya buka wawasannya dan saya bantu untuk menjaga mimpi dan harapannya. Saya tidak perlu membuat mereka menjadi pintar, saya hanya harus memberi jalan untuk mereka mencari tahu kebutuhannya sendiri (dan tahu caranya berjumpa dengan kesempatan). Terakhir, saya tak lagi perlu merasa risau tentang apapun, karena perjalanan mereka tetaplah langkah yang mereka pilih, bukan lagi saya yang menuntun. 

Ah, (tapi) mungkin jika semua setuju perubahan harus digerakkan secara bersama-sama, didukung oleh semua lapisan masyarakat dan serentak, rasanya kita masih akan punya harapan ya? Untuk masa depan yang lebih baik, juga kehidupan yang lebih seimbang. 

BELAJAR DARI APA SAJA : #SOURDOUGH

Hari ini setahun yang lalu, saya mengikuti workshop yang diadakan oleh masa de pan bread house. Pada waktu itu, keikutsertaan saya murni karena faktor ingin tahu. Sebelumnya saya pernah mencoba membuat roti, sekali berhasil dan berkali-kali gagal kemudian berujung kapok, tidak mau mencoba lagi. Sampai di satu waktu, saya mendapat informasi itu, kata kunci yang membuat saya bergeming adalah menguleni. Maka, di hari itu, berdirilah saya menghadapi wadah yang berisi tepung, air, sourdough dan bahan pelengkap lainnya. 

Kekaguman saya dimulai ketika menikmati adonan yang lengket menempel di keempat jemari. Kala itu, saya baru tahu tekniknya tak selalu harus dibanting, ternyata ada juga yang caranya dilipat penuh kelembutan. Sisa proses berikutnya adalah menunggu hingga adonan mengembang sambil mendengar penjelasan tentang udara yang terperangkap, perbedaan waktu yang disebabkan oleh cuaca dan bagaimana cara memperlakukan sourdough

Disaat itulah saya tersadar, membuat roti termasuk pekerjaan yang melatih kesabaran. Menunggu, menguleni, menunggu, membentuk, menunggu, membakar dan menunggu sebelum dinikmati hasilnya. Hanya itu aktivitas yang dilakukan. Menunggu untuk melihat keajaiban. Disinilah awal perjalanan saya, pembelajaran tahap satu; mengolah roti berbonus melatih kesabaran. 

Lebay? Tidak juga, karena proses menunggu ini sebetulnya adalah jeda yang kita berikan untuk mengistirahatkan adonan sebelum kita lanjutkan pada proses berikutnya. Bagi saya, proses ini seperti sedang menyiasati hidup, yang sesekali perlu memberi jeda setelah lama beraktivitas, untuk duduk sejenak – diam – merenung, mengambil jarak agar mampu melihat dengan jernih- untuk memahami – untuk mengevaluasi diri.  

Pada proses berdiam diri ini, saya juga memberi kesempatan pada diri untuk menunggu. Sebab, dalam menunggu (kesempatan yang tepat), kita melatih untuk menahan diri yang berarti harus bersabar. Sambil menunggu, kita dapat belajar menyadari sudah sejauh mana langkah yang dilalui. Dengan menunggu, kita akan memahami sebuah proses membutuhkan waktu. Karena menunggu, kita mampu menghargai bahwa hasil adalah sebuah rangkaian penuh pembelajaran. 

Keajaiban berikutnya atau pembelajaran tahap dua, saya dapat dibulan Desember. Usai menjalani operasi pengangkatan batu empedu, aktivitas saya tak banyak. Beruntung, saya tidak amnesia dan berhasil memanggil ingatan tentang proses membuat roti. Kali ini saya bermodalkan 80% nekat dan sisanya tekad untuk membuat sourdough sendiri. 

Tentu bukan perjalanan yang singkat, lima hari hidup saya tak pernah jauh dari cairan yang terdiri dari tepung dan air itu. Memperhatikan apa yang terjadi dari hari ke hari. Namun, siapa sangka, reaksi yang saya pikir tak akan sukses ternyata berhasil mengajarkan saya jauh lebih banyak tentang sabar dan berbagi. Sebab, dalam sepuluh bulan berikutnya, kegiatan saya sehari-hari berlanjut untuk ‘memberi makan’ sourdough dan menikmatinya di meja makan bersama keluarga dan teman. Rumah saya tak pernah sepi. Hal ini, mengajarkan saya dengan berbagi, hati saya penuh terisi rasa bahagia. Hingga saya tak lagi merasa sepi ataupun kekurangan. 

Pernah suatu ketika, saya diajak untuk mengikuti sebuah bazaar. Saya diminta untuk menjual roti. Satu yang saya tidak bisa lakukan adalah menentukan harga. Kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin, karena saya merasa membuat roti itu seperti mendonorkan darah. Semakin sering sourdough itu saya pergunakan, maka ia akan semakin sehat. Ah, tapi mungkin itu hanya pikiran saya saja. Mungkin, saya hanya belum tahu bagaimana caranya menghargai jerih payah saya sendiri dalam menjaga siklus hidup sang adonan biang. 

Namun, sejauh ini saya tahu pengalaman yang saya dapat sangat berharga. Bukan sebatas bisa membuat roti dan menikmatinya bersama orang-orang tercinta. Saya pun dapat belajar banyak nilai-nilai kehidupan, tentu bukan pengalaman yang dangkal. Ya, setidaknya itulah yang terpenting bagi saya. Kesadaran bahwa dalam hal sekecil apapun, saya dapat belajar hal yang besar, yang bisa saya teruskan atau bagikan untuk orang lain. Sehingga nilai kebermanfaatannya terus menerus, tak berhenti di diri sendiri.