KETIKA SI PECINTA BUKU BELAJAR MELEPASKAN

Setiap kali saya menyesatkan diri di lorong-lorong penuh buku, saya mencium aroma ketenangan. Saya bisa berjam-jam berdiam diri disana. Menikmati satu demi satu judul dengan prolog yang ditawarkan. Menerka-nerka isinya semenarik apa? Seperti testimoni orang-orang kah? Karena bagi saya, sebuah buku dilahirkan dengan cara yang eksklusif.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman. Dia seorang auditor, katanya, tenang saja setiap tulisan itu punya pembacanya sendiri-sendiri. Saya rasa betul demikian, karena sebuah cerita yang dihadirkan didalamnya akan memberikan kesan berbeda pada setiap pembacanya. Semua tergantung pada konteks sejauh mana pengalaman setiap individu, jadi bolehlah saya katakan setuju kalau soal buku bisa dibilang sangat personal. Kita tida bisa men-judge seseorang karena menyukai jenis buku tertentu.

Kalau saya sendiri, urusan membeli buku pasti memilih yang membuat saya ingin baca berulang kali. Tentu tidak dalam waktu berdekatan, bisa jadi saya mengulang untuk membaca setelah tahunan berlalu. Dan saya akan terkejut sekali mendapati pemahaman saya berubah-ubah. Sejauh itu pula saya mencerna, bahwa memang sebagian diri kita mampu memaknai sebuah kisah dengan sudut pandang berbeda meski itu adalah kisah yang sama. Wajar kan kalau saya sulit melepas buku karena salah satunya saya membeli dengan alasan ingin dibaca lagi, lagi dan lagi.

Mungkin, karena membaca buku bagi saya seperti sedang belajar memahami sebuah moment dalam hidup. Apa yang saat ini kita anggap sulit, bisa jadi malah menjadi kisah lucu dihari nanti. Perubahan sudut pandang itu terjadi karena pada akhirnya kita mampu melihat suatu masalah dengan cara berbeda. Itulah keajaiban. Setidaknya saya anggap begitu. Saya menemukan pelajaran tambahan ketika membaca ulang buku yang sama.

Nah, penulis yang sukses (versi saya) adalah seorang yang mampu menghadirkan cerita untuk dibaca berkali-kali. Dan meski saya sangat suka sekali membaca, kenyataannya, hanya nama yang itu-itu saja yang hampir memenuhi rak buku di rumah. Entahlah, bukan juga berarti saya terlalu memilih, sejujurnya, dengan maraknya penulis muda akhir-akhir ini, saya malah jadi sering bingung untuk memilih memiliki sebuah buku. Ujungnya, saya lebih berhasrat untuk meminjam sajalah, jikalau saya yakin buku tersebut menjadi milik saya, biar waktu yang menentukan. Rasa-rasanya ini seperti memilih jodoh saja, ya? Ya memang, cocok dengan kalimat yang penuh tekanan dari teman saya itu, memang selalu ada penikmat tersendiri.

Pernah, ada masanya saya suka penulis yang gaya menulisnya mendayu-dayu. Ya, apalagi kalau bukan soal cinta, kasmaran, putus cinta, dlsb itu. Memang tak pernah ada habisnya untuk diceritakan kembali. Kisah-kisah itu pun beragam, ada yang menyayat, ada pula yang membuat diri berbunga-bunga selayaknya sedang dirayu dan dipuja. Dan saya jadi teringat, dahulu, ketika mulai mencoba mengubah minat baca, saya mengumpulkan lebih dari satu buku yang berisi coretan kasih Khalil Gibran. Aha! Kau tahu? Setelah hampir dua puluh tahun, saya memekik sendiri mengenggam buku-buku tersebut sambil terheran-heran apa yang dulu membuat saya tergila-gila.

Ini lucu! Saya jadi makin penasaran dengan selera baca saya dimasa remaja. Semakin saya telusuri, semakin saya merasa heran sendiri, karena sebetulnya tidak ada hal tertentu yang membuat saya jadi menyukai jenis roman atau apapun. Saya suka ya saya baca, sesimpel itu. Mau berat ataupun ringan, selama saya merasa suka, saya rela menyisihkan pendapatan saya hanya untuk membeli buku.

Menariknya, saking saya suka baca, sebelum punya anak, saya sudah membeli beberapa buku anak. Lalu, setelah Ia lahir, saya memilih untuk tak membelikan mainan, tetapi beragam jenis buku. Setelah Ia sekolah, sisi menariknya semakin lengkap, karena ternyata di sekolahnya sekarang mulai rutin digelar festival buku, dimana salah satu targetnya adalah SiTuBuCang, yakni Silih Tukar Buku Rencang. Maka habislah semua keegoisan saya terhadap buku. Kala itu, diawal mula mengikuti situbucang, saya kalang kabut mencari mana buku yang harus saya keluarkan untuk ditukar? Ini masih suka, itu masih suka. Sampai pada satu keputusan saya bulatkan untuk mengeluarkan dua buah buku.

Persoalan tidak selesai sampai disitu, maka yang terjadi selanjutnya adalah saya harus mengajak anak saya untuk juga mengeluarkan buku-bukunya. Dan saya pun gagal membujuknya untuk menukarkan buku miliknya. Lalu, saya punya ide cemerlang, mengajak Raga untuk membeli lagi buku yang paling disukainya dan buku tersebutlah yang kemudian ditukarkan pada situbucang. Ini salah satu pengalaman terlucu, karena membuat saya sadar kalau saya dan Raga memang punya masalah serius dengan kemelekatan terhadap suatu barang. Ironisnya adalah buku.

Saya sempat bertanya-tanya sendiri perihal ini, kenapa sampai sesulit ini? Mungkinkah ketika membaca saya merasa seperti masuk ke sebuah dunia baru, berkenalan dengan sosok-sosok ideal, menyapa penggalan kisah apik, angan-angan dan banyak lagi kesan yang saya penuhi. Saya bisa lupa diri karena asik membaca. Namun, sejak berkenalan dengan situbucang, saya menemukan sisi lain dari esensi membaca. Tidak hanya sekedar membaca berulang-ulang kisah yang sama, tetapi bagaimana hati dapat belajar berpisah dengan penggalan cerita. Karena, seperti yang saya sebutkan diawal, bahwa pemahaman baca bisa sangat terpengaruh dari pengalaman pribadi seseorang, maka ketika akhirnya saya bisa merelakan buku tersebut berpindah tangan, ini menjadi sebuah keberhasilan. Artinya, saya sudah ‘mencukupkan’ sisi pembelajaran di hari lalu dan siap melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Dengan begitu, saya berniat untuk meleburkan batas, agar tak terlalu pemilih untuk jenis buku yang ingin dibaca. Minimal, saya jadi lebih punya ruang yang lebih leluasa lagi dalam hal berbagi. Tentu, bukan berarti buku yang tidak disuka jadi di-situbucang-kan, tetapi supaya referensi saya semakin mantap.

Setelah Situbucang berlalu, saya berharap semoga si melankolis plegmatis yang mencoba untuk tak terlalu mendramatisir hidup ini, bisa semakin mudah melepaskan kemelekatan. Kemudian, kepada siapa lagi saya berterima kasih selain pada RAGA, si anak hebat berusia 7 tahun, guru terbaik yang pernah saya miliki. Kalau bukan karena dia, saya tak mungkin mengenal SMIPA, tak mungkin juga saya punya ruang baru untuk berbincang dengan para manusia-manusia hebat, yakni mereka yang mencemplungkan saya dalam Situbucang. Pastinya, semesta pun berperan penting. Saya yakin, memang seharusnyalah ini menjadi wadah untuk saya belajar dan terus belajar sebagai wujud dari sebuah pencapaian.

Advertisements

PATAH

Ayah,
Kuhitung sejumlah pagi tanpamu
Berhutang waktu padaku yang tak mau menunggu
Agar dapat kunikmati nyaman dalam pelukmu
Dekat dengan jantungmu 

Ayah, 
Sayapku kian siap terbang tinggi 
Menggapai mimpi yang kujalin dari hari ke hari
Kuharap adamu saat kulepaskan diri 
Agar kau mengerti arti ku kini 

Ayah, 
Rindu-rindu yang kujejak setiap kali kau pergi 
Bukan hanya mimpi yang harus kugapai nanti
Kutahu peluh itu ada pada setiap nadi
Namun, bukan pula itu yang kuingini 

Ayah, 
Andai saja kau tahu dan bisa kau penuhi
Bagaimana cara mengisi sepi 
Jangan kau patahkan hati-hati kami 
Yang selalu rindu sebelum kau membuka mata pagi hari ini 

Ayah, 
Kau dimana? 
Semoga selalu ada dalam perlindungan sempurnaNya

  

WANITA ITU

Wanita itu adalah yang saya panggil ibu. Wanita yang sedari dulu saya kenal pekerja keras. Bahkan sampai usia senjanya pun masih sangat suka mengerjakan banyak hal. 

Saya pernah marah padanya, karena saya tahu beliau sangat pandai menjahit, tapi saya hampir tak pernah dijahitkannya baju. Beliau bekerja dari pagi hingga petang. Meski begitu, tak jarang pula saya melihatnya terbangun pada dini hari untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Hingga di ambang fajar, beliau mulai membangunkan anak-anaknya untuk memulai hari. Memberikan restunya agar lancar urusan kami dan beliau pun memulai lagi kesibukannya. Wajar rasanya jika tak tersentuh lagi urusan jahit menjahit, marah itu pun terlupakan begitu saja sampai tibalah saya lulus SMA. Kali itu, beliau tak lagi menunda menjahitkan sebuah baju. 

Semasa sekolah, tak sulit menemukan seorang guru yang mengerti banyak hal, padanya juga saya panggil Ibu. Ditengah sibuknya pun masih saja menyempatkan diri untuk duduk menemani saya yang kesulitan memahami pelbagai mata pelajaran. Maka saya mengenal beliau sebagai si jago matematika, si jago fisika, si jago akuntansi, si jago jahit, si jago masak, si jago ngebut dan masih banyak lagi yang lainnya. Kenapa saya tak menyebutnya si jago kimia? Karena saya dulu merasa lebih bisa dibanding Ibu. Hanya saja, setiap kali saya minta diajari, pasti kami bertengkar. Prinsip harus mengerti dasar adalah tekanan bagi saya yang malas membaca dari awal. 

Saya remaja, bukan anak yang suka turun ke dapur apalagi mengerjakan banyak pekerjaan perempuan. Saya lebih suka duduk di teras terbengong-bengong dibelai semilir angin sambil membaca buku lengkap dengan setoples cemilan. Ketika saya menikah dan memiliki seorang anak, semua terheran-heran dengan segala perubahan yang terjadi karena tiba-tiba saja saya suka menjahit, memasak (sebetulnya lebih suka membuat kue dan roti) dan singkatnya mengerjakan berbagai pekerjaan rumah termasuk berkebun. Semua yang ibu lakukan, saya lakukan saat ini. Hingga akhirnya saya dan ibu sering berdiskusi tentang banyak hal. Tentu, dengan perdebatan disana sini, khas sekali hubungan kami. 

Satu-satunya kesamaan kami adalah senang bersepeda. Namun, tetap saja, meski memiliki kesenangan yang sama, saya rasa, beliau jauh lebih pemberani. Jelas, karena satu dari kami merupakan orang yang sangat praktis sedangkan yang satu lagi termasuk orang yang sangat ribet. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut, bukan? Tetapi akhirnya saya menemukan satu hal menyenangkan ketika berbagi dengan beliau. Walaupun sebetulnya ini bukan proyek pertama yang saya lakukan bersamanya. 

Singkatnya, tepat beberapa hari lalu ada hal yang baru saya sadari dari hubungan kami. Meski sejak dulu ibu selalu membuka ruang-ruang diskusi, seringkali, saya remaja merasa ada yang kurang dengan hal itu. Dan mungkin terbawa hingga saya berkeluarga, saya merasa menjaga hubungan baik dengan beliau lebih kepada menjaga perasaannya, sehingga keintiman yang saya harapkan itu terasa sedikit sekali. 

Namun, kali ini, saya tersadar kalau ternyata ibu selalu mendengarkan saya. Ketika itu kami sedang memperdebatkan salah satu ilmu menjahit dalam suasana yang sangat cair sekali. Saya tahu beliau lelah, saya pun saat itu cukup merasa lelah. Tetapi apa yang menjadi perbincangan kami kala itu, terasa hangat hingga kami bisa sama-sama saling tertawa dan menertawakan. Rasanya, ini akan menjadi kenangan terbaik saya tentang ibu, bukan tentang apa yang menjadi topik obrolan, tetapi apa yang terasa dihati kami saat itu. Ada satu lubang yang saya ingin isi sejak dulu dan mungkin inilah saatnya. Saya melihat ibu sebagai seorang wanita yang lebih sempurna dari sebelumnya. Seorang yang saya tahu tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun. 

BINGKISAN DARI NENEK DAN KAKEK


Manusia seringkali dihadapkan pada rasa takut, gelisah dan berbagai perasaan lain yang mungkin menyurutkan langkah. Saya pun tak jarang merasakan itu. Memiliki rasa khawatir yang berlebihan, meski (ternyata) berakhir dengan kelegaan. Rasanya, harus sepakat ya, untuk percaya bahwa Tuhan tak mungkin memberi kita kesulitan melebihi batas kemampuan. 

Ceritanya, beberapa waktu lalu, saya mengunjungi nenek dan kakek. Kemudian, bergulirlah berita-berita keluarga yang sedang ditimpa musibah; sakit. Bahkan beberapa cukup berat sampai tak sadarkan diri dan harus masuk ICU. Nenek saya pun berkomentar; “alhamdulillah, kita masih disayang, masih dikasih banyak ujian”

Ah, benar sekali! Saya merenung lama mendengar kalimat beliau. Memang, benar, seringkali manusia ‘dibuat’ mudah hanyut dalam kesedihan atau kesakitan, hingga lupa untuk secepatnya bangkit. Bahwa berlama-lama larut dalam ruang duka, hanya menambah luka-luka baru. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah rasa syukur. Karena dengan adanya ujian bukankah berarti kita dianggap sudah siap? Sekaligus menyadarkan kita sejak awal nafas ditiupkan hingga nafas dihentikan kasih dan sayang-Nya tak pernah hilang, meski seringkali manusia dibuat lupa dan terlalu asik mengejar hal-hal semu. 

Pernah juga, suatu ketika, saya berbincang dengan seseorang yang saya anggap punya stock rasa sabar amat banyak. Beliau, disatu pagi, setelah menunaikan kewajibannya terjatuh dan tak sadarkan diri. Empat belas tahun lamanya, beliau harus mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur. Namun, setiap hari, sejak tubuhnya dinyatakan lumpuh, semangat yang beliau suntikan pada suami, anak-anak dan keluarganya tak pernah luntur. Beliau tetap menjadi seorang yang selalu dimintai pendapat atau sebagai tempat bersinggah dari perjalanan untuk sekedar berbincang dan melepas rindu. Apa yang selalu beliau titipkan? Adalah rasa syukur, jangan pernah mengeluh meski peluh tak juga luruh. Tetap bersinar walaupun hujan belum mau berhenti. 

Saya rasa, kuncinya memang bagaimana cara kita menyikapi setiap rasa sakit itu datang. Karena tak mungkin kita hindari, maka dengan bersyukur, setidaknya kita bisa segera bangkit. 

Saya pun kembali mengingat-ngingat bagaimana diri jika sedang berenang dalam situasi yang dianggap sangat berat. Adakah saya menangisi hal tersebut? Atau saya lebih banyak bercermin? Dulu sekali, saya pernah berpikir untuk belajar menertawakan kesedihan, tujuannya supaya saya selalu ingat ini semua sementara. Seperti halnya kesenangan, karena memang tak ada yang bertahan selamanya. Itulah siklus yang harus saya hadapi, jalani dan alami. 

“Kita adalah apa yang kita perjuangkan”, baru saya sadari betul maknanya. Dan terima kasih, Nek-Kek, yang telah mengingatkan saya atas hal ini, seperti bingkisan kecil untuk pengingat hari-hari nanti. Semoga Tuhan selalu memberi perlindungan paling sempurna untuk kalian.

Nak! 


Teruslah berjalan, Nak! Jejak langkahku ‘kan selalu mengiringi kemana pun kau pergi. Maka, janganlah ragu sedikit pun untuk melanjutkan mimpimu. Jika kau ingin berhenti sejenak, ingatlah hari ini. Disaat kita tertawa bersama, melepas rindu sambil menatap langit yang membiru. Hingga kau mengerti, tak ada yang “tidak bisa” hanya kau “belum bisa” melakukannya. 

Do’a terbaikku ‘kan selalu menggenggam jiwamu, Nak. Menguatkan hatimu, menyelamatkan harimu. Mendorongmu untuk tak pernah menyerah meski lelah menghimpit nafasmu. Namun, ketika waktu tak mengijinkanmu untuk kembali berlari, pulanglah ke pangkuanku. Akan kuberi segala perlindungan agar kau merasa tenang dan mampu bangkit kembali menghadapi kesulitanmu. 

Kenangan tentangku ‘kan selalu menemanimu, Nak. Untuk membuatmu belajar dari pengalamanku, ambillah semua sesuai kebutuhanmu, jangan kau lebih-lebihkan apalagi sama-samakan. Karena memang kita berbeda meski dulu sempat bersatu raga. Janganlah lupa kau bersyukur, sebab sejak nafasmu ditiupkan, Dia selalu menyayangimu melebihi sayangku padamu. 

Satu keinginan terdalamku, anakku sayang. Carilah kebahagiaan di dalam dirimu, temukanlah kesahajaan disetiap langkahmu. Ingatlah bahwa menyayangi bukan berarti kasihan, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri agar mampu bertahan ditengah gelombang meski hempasan badai mengombang-ambing raga. 

TANTANGAN

Little_Raga pernah mendapat tantangan dari rumah belajarnya, ia diminta untuk menuliskan apa yang menjadi kehebatan dan kekurangannya saat ini. Saya, termenung memikirkan makna yang dalam tentang tantangan kali itu. Begitu hebatnya kakak-kakak (baca: guru) yang merencanakan program, karena saya jadi tahu bahwa Little_Raga ternyata merasa ‘terganggu’ untuk menuliskan kekurangannya.

Reaksi pertama, ketika saya menyebutkan kekurangannya, ia pun menangis. Padahal di lembar tantangan dijelaskan tentang kekurangan yang dimaksud hanyalah aktivitas (berkaitan dengan kemandirian) yang masih terus harus dibangun pada diri anak. Artinya, kekurangan tersebut bukanlah sebuah hal yang buruk.

Saya menjelaskan sampai berulang kali dengan berusaha menenangkannya kalau memiliki kekurangan itu, biasa. Tidak perlu merasa malu atau sedih, karena belum tentu berarti tidak bisa. Akhirnya, saya menjelaskan melalui analogi ia dan teman sebayanya, ada yang sudah lancar membaca, ada yang baru melancarkan. Apakah itu suatu kesalahan? Ya tidak, jawabnya. Apakah artinya yang belum lancar itu tidak bisa? Ya tidak, jawabnya lagi. Apakah teman-teman lain membantu saat temanmu itu berusaha dengan giat? Oh tentu saja iya, jawabnya lebih yakin. Jadi, selagi seseorang berusaha dengan baik, kekurangan tentu masih bisa diperbaiki, tidak perlu takut karena yang terpenting adalah selalu berusaha untuk melakukan dan mencoba. Begitu kira-kira kesimpulan kami di sore hari itu.

Selang beberapa hari, saya berbagi cerita dengan seseorang mengenai tantangan Little_Raga. Tak jauh berbeda, ternyata anaknya pun mengalami hal serupa. Kata kuncinya adalah merasa dibandingkan. Sungguh luar biasa sekali melihat anak dalam rentang usia 7 tahun ini “tidak terima” dan merasa risih karena adanya sebuah pembanding.

Tetapi kenapa? Ada apa dengan si aku yang tidak ingin terlihat memiliki kekurangan atau merasa si A bisa begitu sedangkan aku tidak? Padahal, kami, sebagai ibu, sama-sama sering mengingatkan untuk tidak apa-apa berbeda dari orang lain. Ketika si A lebih dulu bisa naik sepeda sedangkan “si aku” belum, bukan berarti “si aku” tidak hebat. Terlebih dalam urusan akademik, kami sama-sama sangat menghindari adanya kompetisi karena menyadari setiap anak punya kehebatan dan kekurangan yang tidak pantas untuk dibanding-bandingkan.

Mungkin (ini hanya tebakan saja), mereka mulai memiliki jiwa kompetitif. Meskipun tidak diajarkan, secara alamiah keinginan untuk berkompetisi ini tumbuh. Yang jelas, sampai saat ini saya melihat Little_Raga tetap mau mengakui kehebatan teman-temannya. Seperti ia tahu, siapa yang jago main bola, siapa yang pandai berolahraga atau siapa yang suaranya bagus. Bagi saya, ini keren karena ia sudah bisa mengapresiasi orang lain. Bahkan, ia tidak menjadikan itu sebuah masalah, tidak pula merasa harus bisa bermain bola.

Lucunya, ketika saya tanya, “mau tidak belajar sepeda roda 2?” Dia menjawab belum, karena merasa belum “perlu” untuk bisa. Nah, ini yang membuat saya penasaran tentang ketidaksukaannya menuliskan kekurangan diri, padahal ia sendiri tahu apa yang dirasa butuh atau tidak. Jadi, kalau kekurangan diri yang saat ini muncul berhubungan dengan kemampuan ia melihat perlu tidaknya menguasai “sesuatu”, saya rasa wajar saja. Tentunya, saya pun yakin, ketika ia merasa “perlu” dan siap, ia akan dengan mudah mengungguli perasaannya. Yang penting ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri, saya tidak akan memaksanya harus bisa seperti yang lain. Saya hanya ingin ia bisa menilai keunggulan diri, agar ia juga tahu bagaimana mengatasi kekurangannya.

Melalui tantangan kehebatan dan kekurangan ini saya jadi menyadari tantangan bagi diri saya sendiri seputar cara saya dalam menemani langkah RAGA. Sejauh mana saya boleh melibatkan diri di putaran tujuh tahun keduanya? Yang pasti, dengan bertumbuh bersamanya, saya belajar tentang hidup. Sekolah yang tak ‘kan pernah ada akhirnya dan ia yang menuntun saya untuk belajar percaya, menghargai, mengasihi serta berbagi. Karena dialah juga suara yang tak boleh saya abaikan, maka saya pun belajar mendengar, mendengarkan selain bicara, berbicara.

RASA YANG CAMPUR ADUK

Pagi ini saya mengawali hari dengan berolahraga, setelah lebih dari tiga minggu sama sekali tidak latihan. Bergerak hanya sebatas membereskan dan membersihkan rumah, itu pun masih secara apa adanya. Terlebih dalam menghadapi hari raya, alasan terbagi dengan memasak dan membuat kue rasanya pas sekali ya? Pas untuk semakin berkurangnya waktu berolahraga (pembenaran nih haha…). Tetapi yang paling ‘jahat’ adalah keinginan untuk terus mengunyah apa yang masih tersisa di meja. Bahaya sekali kalau terlalu banyak libur, nih. 

Memangnya masih libur? Inilah kesenangan saya sebagai pekerja yang bisa dikatakan paruh waktu. Bekerja saat memang jadwal mengajar ada, jika tidak? Ya mencari kesibukan sendiri. 

Terkadang, saya berpikir, rasanya cukup banyak yang bisa saya kerjakan (termasuk tidak berhenti makan) dibanding ketika dulu saya terikat pada sebuah perusahaan. Dimana waktu luang saya sangat terbatas karena jam pulang kantor atau di hari libur saya pergunakan benar-benar untuk beristirahat. Hampir tidak ada waktu untuk berdiam diri, menikmati sore hari di teras rumah atau bermandikan mentari pagi dengan terbengong-bengong tanpa diburu waktu. Setidaknya, hal seperti ini yang sekarang banyak saya syukuri. 

Meski rasa kangen kerap kali hadir menyapa hati, mengingat asiknya bekerja di sebuah konsultan. Tetapi, obsesi yang paling saya ingat dikala itu adalah memiliki ruang sendiri seperti saat ini. Lucu rasanya, keadaan berbalik dan hal-hal itu terasa wajar adanya. Seiring berjalannya waktu, saya mengerti justru mereka inilah yang membentuk saya seperti ini. Karena kebaikan hati mereka saya banyak belajar dan menemukan semangat untuk terus melangkah. Meski sebagian tak lagi ada di ‘jalan’ yang sama, tergantikan oleh potongan-potongan kenangan yang tersisa. 

Seusai berolahraga, saya mampir sebentar untuk mengantarkan pesanan seorang teman di kawasan dago. Entah saya yang sedang terbawa suasana atau memang keadaan bandung saat ini, rasanya gelombang rindu semakin dalam menyapa diri. Sepanjang jalan pulang saya banyak mengingat-ngingat masa lalu dan ingat sebuah kutipan dari akun yang saya follow, “I never make the same mistake twice. I make it five or six times, just to be sure“. Hahaha… sejenak saya bisa tertawa lepas, lagi-lagi tersambung dengan ide seseorang yang menyebutkan, “hidup itu diambil yang lucunya aja, yang gak lucu dibuang”. Ya, betul juga, hidup memang untuk dinikmati dan ditertawakan. Saya tak bisa bayangkan jika harus menjalani hidup dengan penuh rasa curiga, ketidaknyamanan, kesedihan dan berbagai perasaan negatif lainnya. Yang pasti, setiap orang pernah membuat kesalahan, pernah juga meragukan apa yang sudah dipilih, bahkan mungkin memutuskan untuk tak merencanakan apa-apa.

Lalu? Ya sudah. Saya sendiri pernah ‘tidak akur’ dengan pilihan yang diambil, ujungnya menyesal karena salah perhitungan. Nah, inilah saatnya menertawakan diri sendiri. Lama kelamaan saya mulai terbiasa untuk menjadikan apa yang tidak sesuai rencana sebagai penggalan kisah lucu yang bisa dimanfaatkan dikemudian hari. 

Namun, sayangnya, untuk urusan perpisahan saya termasuk orang yang susah ‘move on‘. Jangankan saat terbengong-bengong seperti sekarang, yang membuat teringat-ingat masa lalu, begitu menghadapi semester depan tak lagi mengajar di salah satu institusi saja membuat saya sedih bertubi-tubi. Padahal, dengan kemudahan teknologi dalam berkomunikasi, pertemanan lebih dari duapuluh tahun pun masih bisa tetap terjangkau. Meski, tetap saja ada rasa yang berbeda. Ketika bisa langsung bersinggungan, bertatap muka dalam berbagi cerita juga tawa, rasanya lebih menyenangkan, pas di hati. Nah, mengawali perpisahan begini-lah yang bisa sering membuat ragu dalam mengambil keputusan. Bisa-bisa membuat saya tidak jadi melangkah. Duh! Gawat ya?

Satu sisi saya memang harus terus diyakinkan dengan melepaskan maka akan banyak kesempatan terbuka, disisi lain saya tahu yang membuat sedih hanyalah masalah kebiasaan karena tidak lagi menjalani rutinitas serupa. Dan horeee! kedua sisi tersebut membuat saya kepayahan. Jadi, sudah saatnya menertawakan diri nih, supaya efek positifnya lebih kerasa. 

Selain belajar melompat jauh dari zona nyaman, pasti akan membawa banyak perubahan baik bagi semua pihak, yang tentunya dalam perjalanan masing-masing akan ada satu titik untuk bertemu kembali. Jika sekarang kita berbagi cerita di kelas yang sama, maka tak menutup kemungkinan untuk berbagi tawa (nanti) lima atau mungkin empat belas tahun lagi. Tentunya, (mereka dalam bayangan saya) telah jauh melangkah, bertumbuh dengan segala kebaikan diri, semakin tegas menyentuhkan karakter diri dalam setiap sapuan karya yang mereka buat. Aamiin. Semoga! 

Kalau sekali-kali kangen, tentu wajarlah ya, walau saya tahu rasa kangen yang hadir biasanya lebih kepada momen kebersamaan, yang gak mungkin ada kalau gak ada yang ‘pergi’, hehehe…. Rasanya seru ya, kayak es campur.