#SEMBILAN

Waktu; 

Aku mencoba mengingat kembali tentang apa yang diberikan oleh waktu kepada kita; aku, kamu dan dia. Tiga manusia hadir dalam perannya masing-masing, bergerak menuju arah yang sama, meski bertumbuh dan belajar memaknai hidup dengan berbeda. 

Aku percaya, waktu menciptakan dinamikanya sendiri, aku-kamu-dia saling bersinggungan di dalamnya, sinergi dan menjadi elemen yang menyeimbangkan satu sama lain. 

Dia hadir setelah dua puluh lima bulan aku-kamu merangkai mimpi bersama. Kini, perjalanan tujuh tahunnya, telah membawa aku-kamu untuk memahami banyak hal. Gelombang emosi yang datang silih berganti, pun tak surut mengajarkan kita untuk saling memahami porsi diri sebagai individu. 

Ada kalanya aku-kamu-dia membutuhkan ruang untuk dapat menepi sejenak. Maka, yang lainnya akan memberikan luang tak berbatas dan mengisinya dengan diam. Menyetujui setiap langkah sebagai tahap pembelajaran bersama, tanpa mengesampingkan kebenaran. 

Aku; 

Aku adalah aku yang tak mungkin berjalan sejauh ini tanpa kamu dan dia. Bahkan diluar kesadaran, aku memahami diriku sendiri saat menemani dia dalam menemukan keutuhan. Aku pun bertumbuh seiring dia yang semakin kaya hatinya, luas ilmunya dan bertambah pengalamannya. Kian hari, kian banyak pula kesadaran yang muncul menjembatani setiap keputusan dan pilihan. 

Kamu; 

Kamu adalah kamu yang kupahami sebagai sahabat dalam situasi tak menentu. Terkadang, aku-kamu tertatih bersama hanya untuk menjaga segalanya tetap seimbang, mengiringi langkah-langkah kecil yang dia ciptakan dengan penuh keriangan. Kamu, yang hadirmu selalu ditunggu, melengkapi setiap jeda kekosongan dengan simpul-simpul sederhana, penuh makna dan ketenangan. 

Dia; 

Dia adalah cahaya yang menerangi aku dan kamu. Dia adalah titik terjauh yang tak pernah kubayangkan. Dia adalah muara dari segala jawaban yang datang tanpa diduga. Dia adalah keheningan yang bercampur dalam gerak dan bahasa. Disanalah aku-kamu menemukan kedamaian. 

Sembilan; 

Menempuh garis waktu tak kusangka semenyenangkan ini. Ribuan malam terbentang menjadi potongan-potongan kenangan yang segera kudekap dalam gelap. Sayup kulantunkan dera bahagia dan luka mencinta. Setiap nafas mendekatkan kita tanpa syarat, keberadaan kita adalah suara yang saling meniadakan. Kesunyian mempertemukan kita dibatas tak terbilang, meleburkan diri untuk sembilan kali putaran waktu. 

HENING

Rasanya begitu manusiawi, ketika seseorang membutuhkan waktu untuk menarik diri dari hingar bingar dunia. Setelah apa yang dilalui terasa begitu menghimpit. Meski bukan berarti apa yang terjadi membebani hari-hari, tetapi adakalanya kita membutuhkan sedikit pencerahan, bukan? Seperti saat disuruh berlari namun tidak tahu jarak tempuhnya sejauh apa dan akan berakhir dimana, pasti dalam hati akan terus bertanya-tanya atau berharap ada yang memberitahu, ya kan? 

Perlu waktu banyak bagi saya untuk mencermati segalanya dengan hati dan pikiran yang terbuka, agar lebih tenang. Memaknainya sebagai cara unik yang Tuhan berikan agar saya mengerti tanpa perlu lagi mempertanyakan. Mengalir begitu saja dan apa adanya. Bahkan mungkin, selembut angin yang membelai anak-anak rambut, menyejukkan. 

Kemarin, di akhir perkuliahan, saya berbincang santai dengan beberapa mahasiswa di hari yang berbeda-beda. Saya semakin yakin kalau pertemuan demi pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Ada makna yang sengaja Tuhan titipkan melalui mereka, yang kemudian saya temukan sebagai bekal untuk menguatkan hati, menjernihkan pikiran bahkan menenangkan jiwa. 

Puncaknya, malam ini, saya berniat untuk pergi keluar mencari kado. Namun berujung dengan berjalan perlahan dibawah rintik hujan dan berhenti untuk semangkuk yamien manis. Saya tersadar dan tersenyum kecil, rupaya Tuhan sedang mengajak saya untuk bercanda. Saya memang sedang membutuhkan ‘humor’ saat ini. Bagaimana tidak? Dengan kekakuan yang terus melanda hampir satu semester lamanya. Akhirnya saya melepas tawa dengan hati yang lapang saat menyantap mie. Ternyata, ungkapan tak apa merasa biasa seusai melewati hari-hari luar biasa itu memang benar adanya. Saya butuh ruang yang bisa melenturkan ketegangan. 

Saya teringat little_Raga yang berselisih dengan teman sebayanya. Kadangkala, hal itu membuatnya sedih sampai harus menangis. Saya pikir, itu hal terlumrah dalam fase hidup seseorang. Berbeda pendapat, perselisihan, gesekan yang membuat diri merasa tak nyaman atau mungkin merasa terancam. Lantas, apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu? Seharusnya saya banyak melihat kedalam diri Little_Raga yang begitu mudah memaafkan dan menerima. Saya rasa, dua hal itulah cara terbaik untuk bertahan, bukan dengan melawan apalagi berlari. 

Senyum saya semakin lebar tak hanya karena perut yang kenyang, saya tersenyum untuk hati yang berbahagia.

Maka, tak ada yang bisa saya ucapkan selain terima kasih untuk hangat yang dititipkan-Nya melalui tangan-tangan sahabat dan orang-orang tercinta, bahkan melalui mereka yang tak pernah saya temui sebelumnya. 

Terima kasih, karena telah membuat saya berani menghadapi dunia luar dan membuat banyak keputusan tanpa merasa terintimidasi. 

Untukmu yang telah hadir, heninglah sejenak bersamaku  

Dimensi yang tak terbilang, mengikat kita pada satu waktu  

Melalui liku kejut istimewa kau membawaku menuju tempat tak bernama 

Namun tak asing dan mendekapku penuh makna

ENTRY 1611-01

Bebrapa minggu lalu, saya disibukkan oleh banyak hal, salah satunya adalah mempersiapkan materi ujian. 

Berbagi ilmu bersama teman-teman di lintas Universitas, terkadang membuat saya terpikir tentang mengapa begitu banyak aturan baku yang diberlakukan? Adakalanya, hal ini menyurutkan langkah dan menciutkan hati. Meski sebenarnya saya tidak boleh patah semangat. Namun, sayangnya, saya masih belum bisa menerima situasi ini dengan baik, malah berganti dengan semakin banyak pertanyaan dan tidak bisa saya hentikan. 

Puncaknya, dua hari yang lalu  seseorang ‘dikirim’ untuk mengingatkan dimana seharusnya saya memposisikan diri. Setelah bincang singat itu, meski saya masih merasa khawatir dengan institusi tempat saya berbagi ilmu, tetap saja saya tidak bisa sedalam itu untuk terlibat. Bukan menyerah! Tetapi memang demikian adanya. 

Ijinkan saya menumpahkan segala keresahan, tanpa bermaksud menyinggung instansi manapun;

Sisi terdalam, saya khawatir, bagaimana jika saya tidak bisa membantu mereka? Bukankah ketika mereka dihadirkan dalam hidup saya artinya saya bertanggungjawab untuk setiap tindakan yang saya ambil (yang bersinggungan dengan mereka)? Tentunya keterbatasan yang sering saya hadapi tidak boleh menjadi penghalang, bukankah begitu? Lagi-lagi saya menyadari, jika kondisi saat ini membuat beberapa anak muda memilih untuk menjadi instant, bukanlah kesalahan mereka, sebab tatanan hidup sendirilah yang mencetak mereka untuk menjadi seperti itu. 

Lantas, apa yang bisa saya perbaiki? Inilah yang membuat saya berpikir untuk mengambil jarak pada sebuah institusi. Saya tahu itu salah, tetapi saya merasa hampir mustahil untuk mengubahnya secara menyeluruh. Saya hanya berharap sentuhan kecil ini dapat sedikit membantu mereka untuk memikirkan kembali tentang langkah yang seharusnya mereka pilih. Bukan berdasar pada kesempatan yang datang. Karena bagi saya, kesempatan itu seharusnya diciptakan bukan hanya ditunggu. 

Baik saya ataupun mereka dengan segala keunikannya pasti punya kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan. Tujuannya bukan untuk menunjukkan siapa yang terhebat tetapi bahu membahu memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Dan saya ingin menjadi sahabat mereka, berdiri secara sejajar, agar saya pun bisa sama-sama belajar dan memahami kapasitas diri. 

Kenapa?

Karena saya pikir itulah yang disebut tanggung jawab? Menyetujui dan menjalankan setiap pilihan dengan sebaik-sebaiknya meski konsekuensi yang dihadapi terkadang tidaklah mudah. Kebetulan –tidak ada yang namanya kebetulan sih, jadi mari kita ubah Sinergi dengan yang sedang ramai dicermati oleh lingkup dimana anak saya bermain dan belajar, sedikit banyak saya mulai merasa lega. Namun, saya masih mempertanyakan, kapan pendidikan ini akan merubah sistemnya untuk menjawab kebutuhan setiap individu dalam berproses hidup? Jujur, saya (hampir) menyerah. 

Terlalu banyak yang harus dibenahi, itu yang akan tetap menjadi PR bersama. Tidak hanya meningkatkan kualitas para pendidik (yang dinilai sebagai pahlawan dan baru saja dirayakan), menurut saya pribadi cara pandang masyarakat pun harus berubah. 

Mari kita coba cermati; 

Ayah saya seorang guru. Beliau sering berkomentar tentang penghasilan guru dimasa baktinya dengan saat ini yang konon sangatlah rendah. Sepadan kah? Beliau pernah berkata, “silahkan dikonversi dengan harga emas” dan saya pun yang kebetulan ‘terjebak’ dilingkungan serupa merasa bukan itu saja masalahnya. Ada yang lebih kompleks dari pada hal itu, bagi saya ini tetaplah soal tanggung jawab. 

Beberapa pertanyaan saya, diantaranya: Jika saja pendidikan dirasa sebagai kebutuhan, kenapa bisa perbandingan pendidik (saya tidak mau menyebut sebagai pengajar) tidak seimbang dengan jumlah peserta didik? Apakah ini berarti tenaga pendidik masih sulit dicari? Namun, mengapa semakin marak saja sekolah-sekolah baru muncul dengan program-program unggulan jika tenaga pendidik itu sulit dicari? Apakah pendidikan sudah menjadi lahan bisnis? Bukankah seharusnya kualitas sebuah institusi didukung oleh tenaga pendidik sebagai ukuran keberhasilannya? Maka, sampai sejauh manakah tingkat keberhasilan itu, jika semakin hari penyerapan tenaga kerja semakin berkurang? Saya rasa ungkapan “tidak sekolah maka kamu tidak akan jadi orang” ini tak lagi relevan. 

Jadi, dimana saya harus memposisikan diri? Rupanya berhari-hari inilah yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Kemudian, Tuhan yang maha pemurah menunjukkan banyak sekali jalan (agar saya bisa kembali nyenyak) dari berbagai peristiwa yang saya alami sejak tiga hari lalu. Sehingga, saya kembali percaya bahwa mereka adalah titipan yang harus saya buka wawasannya dan saya bantu untuk menjaga mimpi dan harapannya. Saya tidak perlu membuat mereka menjadi pintar, saya hanya harus memberi jalan untuk mereka mencari tahu kebutuhannya sendiri (dan tahu caranya berjumpa dengan kesempatan). Terakhir, saya tak lagi perlu merasa risau tentang apapun, karena perjalanan mereka tetaplah langkah yang mereka pilih, bukan lagi saya yang menuntun. 

Ah, (tapi) mungkin jika semua setuju perubahan harus digerakkan secara bersama-sama, didukung oleh semua lapisan masyarakat dan serentak, rasanya kita masih akan punya harapan ya? Untuk masa depan yang lebih baik, juga kehidupan yang lebih seimbang. 

BELAJAR DARI APA SAJA : #SOURDOUGH

Hari ini setahun yang lalu, saya mengikuti workshop yang diadakan oleh masa de pan bread house. Pada waktu itu, keikutsertaan saya murni karena faktor ingin tahu. Sebelumnya saya pernah mencoba membuat roti, sekali berhasil dan berkali-kali gagal kemudian berujung kapok, tidak mau mencoba lagi. Sampai di satu waktu, saya mendapat informasi itu, kata kunci yang membuat saya bergeming adalah menguleni. Maka, di hari itu, berdirilah saya menghadapi wadah yang berisi tepung, air, sourdough dan bahan pelengkap lainnya. 

Kekaguman saya dimulai ketika menikmati adonan yang lengket menempel di keempat jemari. Kala itu, saya baru tahu tekniknya tak selalu harus dibanting, ternyata ada juga yang caranya dilipat penuh kelembutan. Sisa proses berikutnya adalah menunggu hingga adonan mengembang sambil mendengar penjelasan tentang udara yang terperangkap, perbedaan waktu yang disebabkan oleh cuaca dan bagaimana cara memperlakukan sourdough

Disaat itulah saya tersadar, membuat roti termasuk pekerjaan yang melatih kesabaran. Menunggu, menguleni, menunggu, membentuk, menunggu, membakar dan menunggu sebelum dinikmati hasilnya. Hanya itu aktivitas yang dilakukan. Menunggu untuk melihat keajaiban. Disinilah awal perjalanan saya, pembelajaran tahap satu; mengolah roti berbonus melatih kesabaran. 

Lebay? Tidak juga, karena proses menunggu ini sebetulnya adalah jeda yang kita berikan untuk mengistirahatkan adonan sebelum kita lanjutkan pada proses berikutnya. Bagi saya, proses ini seperti sedang menyiasati hidup, yang sesekali perlu memberi jeda setelah lama beraktivitas, untuk duduk sejenak – diam – merenung, mengambil jarak agar mampu melihat dengan jernih- untuk memahami – untuk mengevaluasi diri.  

Pada proses berdiam diri ini, saya juga memberi kesempatan pada diri untuk menunggu. Sebab, dalam menunggu (kesempatan yang tepat), kita melatih untuk menahan diri yang berarti harus bersabar. Sambil menunggu, kita dapat belajar menyadari sudah sejauh mana langkah yang dilalui. Dengan menunggu, kita akan memahami sebuah proses membutuhkan waktu. Karena menunggu, kita mampu menghargai bahwa hasil adalah sebuah rangkaian penuh pembelajaran. 

Keajaiban berikutnya atau pembelajaran tahap dua, saya dapat dibulan Desember. Usai menjalani operasi pengangkatan batu empedu, aktivitas saya tak banyak. Beruntung, saya tidak amnesia dan berhasil memanggil ingatan tentang proses membuat roti. Kali ini saya bermodalkan 80% nekat dan sisanya tekad untuk membuat sourdough sendiri. 

Tentu bukan perjalanan yang singkat, lima hari hidup saya tak pernah jauh dari cairan yang terdiri dari tepung dan air itu. Memperhatikan apa yang terjadi dari hari ke hari. Namun, siapa sangka, reaksi yang saya pikir tak akan sukses ternyata berhasil mengajarkan saya jauh lebih banyak tentang sabar dan berbagi. Sebab, dalam sepuluh bulan berikutnya, kegiatan saya sehari-hari berlanjut untuk ‘memberi makan’ sourdough dan menikmatinya di meja makan bersama keluarga dan teman. Rumah saya tak pernah sepi. Hal ini, mengajarkan saya dengan berbagi, hati saya penuh terisi rasa bahagia. Hingga saya tak lagi merasa sepi ataupun kekurangan. 

Pernah suatu ketika, saya diajak untuk mengikuti sebuah bazaar. Saya diminta untuk menjual roti. Satu yang saya tidak bisa lakukan adalah menentukan harga. Kenapa? Saya tidak tahu. Mungkin, karena saya merasa membuat roti itu seperti mendonorkan darah. Semakin sering sourdough itu saya pergunakan, maka ia akan semakin sehat. Ah, tapi mungkin itu hanya pikiran saya saja. Mungkin, saya hanya belum tahu bagaimana caranya menghargai jerih payah saya sendiri dalam menjaga siklus hidup sang adonan biang. 

Namun, sejauh ini saya tahu pengalaman yang saya dapat sangat berharga. Bukan sebatas bisa membuat roti dan menikmatinya bersama orang-orang tercinta. Saya pun dapat belajar banyak nilai-nilai kehidupan, tentu bukan pengalaman yang dangkal. Ya, setidaknya itulah yang terpenting bagi saya. Kesadaran bahwa dalam hal sekecil apapun, saya dapat belajar hal yang besar, yang bisa saya teruskan atau bagikan untuk orang lain. Sehingga nilai kebermanfaatannya terus menerus, tak berhenti di diri sendiri. 

MARAH YANG BAIK

Marah yang baik? Bisa memangnya mengontrol diri ketika amarah menyerbu dengan menggebu-gebu? Jujur, saya sendiri masih terus belajar untuk mulai meredakan amarah sebelum ‘bertemu’ dengan lawan bicara. Apalagi dalam situasi tertentu, semisal kondisi hati dan pikiran yang sedang kusut. Maunya ya meledak saat itu juga. 

Pagi tadi berawal dengan saya yang bangun terlambat ditambah nyeri hebat di kepala sebagai penyebab mood turun. Baiklah, salahkan saja keadaan, ujar saya yang masih enggan melihat ke dalam diri dan secepat mungkin menuntaskan kewajiban menyiapkan bekal Little_Raga agar dapat segera mandi dan membuat sarapan untuk kami berdua.

Keberuntungan yang saya rasakan adalah saat ibu datang membantu. Oh, rasanya setengah kepenatan di pagi hari dengan mudahnya lenyap. Dan saya masih punya waktu 10 menit untuk mempersiapkan materi mengajar hari ini. Namun, saya lupa satu hal, saya benar-benar lupa untuk memberikan perhatian dengan bersentuhan langsung dengannya, bukan sekedar mengingatkan ‘ayo mandi’ atau ‘ayo makan’ apalagi bertanya ‘sudah lengkap semua isi tasmu?’ 

Dan itulah yang membuat Little_Raga kesal dengan menciptakan keriuhan di pagi hari. 

Serasa ditampar, saya pun menghentikan aktivitas dan bertanya apa yang bisa saya bantu. Namun, keterlanjuran yang membuat nasi menjadi bubur tak bisa disetel ulang agar kembali menjadi nasi. 

Rasanya percuma untuk bicara dengannya saat ini, saya harus memberi jeda untuk kami berdua sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi. 

Ya, kadang kala saya lupa, bahwa anak meskipun sudah terbiasa untuk melakukan banyak hal sendiri, tetap membutuhkan perhatian kecil dari sekelilingnya. Itulah hadiah paling besar dalam hidup seseorang, bukan seberapa banyak kita mampu membelikannya mainan atau barang-barang tertentu. Sekali lagi, perhatianlah yang membuatnya merasa nyaman dan tahu kemana harus ‘pulang’ saat merasa tak ada tempat sehangat rahim ibu. Saya tahu, saya mengerti, saat itulah ia membutuhkan uluran tangan dan juga pelukan untuk menggantikan kata ‘kamu pasti baik-baik saja’. 

Sementara denyutan di kepala masih belum juga hilang, saya yang amatir dalam mengolah emosi menyadari untuk segera meminta maaf pada Little_Raga. Bukan ia yang menciptakan keriuhan di tengah sibuknya pagi ini, tetapi saya sendiri yang melupakan bahwa yang terpenting adalah komunikasi. Saya terlalu ‘asik’ menyimpan kesakitan yang disebabkan oleh saya sendiri (kehujanan dan tak langsung berganti baju) tanpa bicara apa-apa tetapi berharap orang lain tahu yang saya rasakan. 

Lagi-lagi saya harus bercermin dan bersyukur; betapa murah hatinya Tuhan yang telah menitipkan saya seorang anak, yang dengan cara sederhana mengingatkan saya kembali tentang pentingnya berkomunikasi. Bahwa saya tak boleh lupa, sebagai manusia saya punya ikatan dengan banyak hal, benda disekeliling saya, lingkungan sekitar dan semesta. Lalu, sebagai seorang yang dikatakan telah dewasa, pun saya harusnya dapat menyampaikan maksud dengan baik, merefleksi diri dan menguasai emosi agar segalanya dapat berjalan semestinya. 

Dengan kata lain, saya sendirilah yang bertanggungjawab membuat rotasi hidup saya tetap nyaman, bukan orang lain. Satu ledakan kecil berpotensi membuat rusak segalanya. Karena segalanya saling berhubungan dan terkait satu sama lain. Seperti kata pepatah lama, “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”

  

BELAJAR DAN APRESIASI

Kemarin, dalam pertemuan ke-5, saya berbincang dengan teman-teman mahasiswa tentang materi terakhir sebelum UTS. Saya menanyakan perihal apa sih sebenarnya yang sedang kita pelajari bersama? Beberapa saling melemparkan argumen, disambut oleh celoteh antara pihak yang setuju dan tidak setuju. Kedua kubu yang tidak saya tengahi itu semakin panas, saling melempar bola api. Sengaja saya biarkan lebih lama, berharap diskusi itu akan menyadarkan mereka tentang betapa pentingnya menggali pengetahuan tak hanya sebatas materi yang disampaikan oleh pengajarnya. 

Sejujurnya, saya senang jika situasi dalam kelas ‘hidup’ seperti ini. Selain saya bisa melihat kemampuan mereka dalam mencerap informasi yang saya sampaikan, saya juga dapat merasakan dinamika kelas. Mereka, yang saya anggap sudah dapat mengerti dan menganalisa, seharusnya dapat pula mencari solusi dalam setiap masalah. Maka, seringkali saya mencoba untuk tidak memberi batasan apapun (sebelumnya), saya hanya mendampingi, sesekali memberi masukan untuk menstimulasi kemampuan imajinatif mereka. 

Tak jarang, dalam setiap kesempatan berbagi dengan mereka, saya pun mendapat pelajaran baru. Seiring dengan banyaknya perbincangan yang bergulir, saya menyadari perbedaan situasi kini dan dahulu. Kemudahan mencari informasi, terkadang tak dibarengi dengan keinginan untuk berusaha lebih. Saya harus mencari cara agar mereka mau bergerak, mau berpikir, mau bertanya, mau berbagi, mau mendengar dan mau bereksplorasi, semata agar mereka menyadari kemampuan diri dan dapat saling meng-apresiasi. 

Nah, mari kita garis bawahi persoalan apresiasi ini. Karena erat kaitannya dengan kreatifitas. Kenapa? Itu adalah pertanyaan yang saya lontarkan sekitar tiga tahun lalu. Ketika pertama kali diajak untuk berbagi tentang metoda berpikir kreatif. 

Jika kata kreatif kita kaitkan dengan anak-anak, rasanya pas ya? Sebab kita tahu (dalam tahapan berpikir) cara berpikir konkrit ini memiliki kemampuan tak terbatas. Begitu pula dalam hal mengamati, mereka akan betul-betul mencerap informasi menggunakan kelima inderanya. Dan satu lagi, anak-anak pun kerap menggunakan perasaannya saat diminta memperhatikan sesuatu. Kemurnian sifat dan sikap inilah modal utama kejujuran, dari sini pula mereka akan menuangkan ide-ide hebatnya. Selanjutnya, apresiasi-lah yang akan melambungkan sisi keberanian (berpendapat) mereka, terlepas dari adanya penilaian benar dan salah. 

Menutup sesi diskusi, saya memancing dengan sebuah tanya; perihal kenapa memilih jurusan dan sekolah ‘disini’? Tetapi tak perlu dikemukakan, saya ingin pertanyaan tersebut diendapkan dalam hati untuk menyelami diri masing-masing. Sudah jujurkah mereka terhadap diri sendiri? Jika memang sudah, saya yakin mereka dapat dengan mudah menghargai diri sendiri dan orang lain. Sehingga, dikala mereka sedang belajar untuk memperkaya diri, mereka dapat menempatkan diri dengan baik, membuka hati dan siap berbagi dikemudian hari (dengan satu syarat, yakni berbagi tanpa pamrih).

Saya hanya berharap, karena ternyata menitipkan masa depan bukanlah hal yang mudah, namun kita tetap harus yakin dan bersungguh-sungguh. Semoga saja, kita semua dapat selalu belajar dari siapapun. 

MEMPERBAIKI KESALAHAN

Pagi ini, Little_Raga cukup sulit diajak bergegas bangun, alasannya karena kemarin tidak sempat tidur siang jadi tidur malamnya masih kurang banyak. Tetapi ketika saya menyebutkan kata LeuKaS (Leumpang Ka Sakola), Ia segera bangun sambil berseloroh “ohiya, aku juga mau bawa mainan, yeah leukas leukas leukas” dan segera menuju kamar mandi tanpa argumen panjang. Saya tersenyum mengingat masa kecil dulu, saat-saat sulit dibangunkan bukan karena kurang tidur, tetapi takut menghadapi situasi disekolah dan membuat enggan untuk berangkat.

Lain dulu, lain sekarang, saya bergumam. Jika dulu saya berpikir sekolah adalah kewajiban semata, bukan kebutuhan. Maka, saat saya memilih sekolah untuk anak menimba ilmu, saya ingin ia merasa bahwa sekolah adalah tempat yang dirindukan, tempat dimana ia merasa nyaman, tanpa takut berbuat salah. Karena bagi saya, kesalahan adalah sarana pembelajaran.

Seperti halnya tadi, saat sedang berkendara, tak jauh dari kompleks perumahan, tiba-tiba saja Little_Raga teringat mainannya tertinggal dirumah. Dengan nada sedih ia meminta saya untuk kembali ke rumah. Dan ingatan saya pun melayang-layang ke masa kecil. Jika saja ini terjadi pada saya, ibu saya pasti akan dengan mudahnya mengendalikan situasi. Sekejap saja, barang yang tertinggal itu sudah siap saya ambil di ruang guru.

Saya tidak menyalahkan pola yang dilakukan oleh ibu, pun saya tidak merasa kesal karenanya. Saya malah bersyukur pernah mengalami itu dan ingin memperbaiki kesalahan. Saya jelaskan pula pada Little_Raga perihal alasan saya untuk meneruskan perjalanan dan mengabaikan keinginannya untuk mengambil mainan yang tertinggal itu.

Bagi saya, memutar balik atau pun meminta orang mengantarkan barang yang tertinggal tak mengajarkan pentingnya untuk mempersiapkan segala kebutuhan jauh sebelum waktunya tiba dan yang perlu digaris bawahi adalah saya tidak mau Little_Raga menganggap kesalahannya bisa “diperbaiki” oleh orang lain. Karena ia harus belajar dari pengalaman, yakni menyadari dengan berbuat salah justru akan tahu seharusnya bersikap bagaimana?

Menangis? Tentu saja, namun saya percaya Little_Raga memahami situasinya. Saya hanya menjanjikan jika sampai di tempat tujuan, ia boleh memeluk saya. Lalu, ketika kendaraan kami sudah terparkir, saya segera memeluknya dan ia pun bertanya, “tidak apa-apa kan bu kalau aku gak bawa mainan?” Saya membelai rambutnya, mencium aromanya dalam-dalam, saya katakan tidak apa-apa.

Hari ini, kami belajar sesuatu yang luar biasa dari pengalaman sederhana. Kami berhasil berdamai dari perasaan kecewa dan takut. Teruslah menjadi guru kehidupan, sahabat kecil Bubu! Ajari Bubu untuk menjadi lebih bijaksana.